Pernah nggak sih kamu invest modal gede-gedean di satu trading, eh malah bablas loss 50%? Sakit banget kan rasanya.
Masalah klasik trader pemula adalah tidak tahu berapa besar posisi yang seharusnya dibuka dalam setiap transaksi. Akibatnya? Modal cepat habis sebelum sempat belajar dari kesalahan. Position sizing atau penentuan ukuran lot adalah kunci utama manajemen risiko yang sering diabaikan. Artikel ini akan membedah 10 cara menghitung position sizing secara praktis dan aplikatif, supaya kamu bisa trading dengan kepala dingin dan kantong tetap aman.
1. Pahami Konsep Dasar Position Sizing
Sebelum masuk ke rumus dan metode, kamu harus paham dulu apa itu position sizing. Secara sederhana, ini adalah proses menentukan seberapa banyak unit aset (lot, saham, koin kripto) yang akan kamu beli atau jual dalam satu transaksi.
Position sizing bukan soal feeling atau asal tebak. Ini tentang matematika sederhana yang melindungi modalmu dari kehancuran. Bayangkan kamu punya modal Rp 10 juta. Kalau kamu all-in di satu posisi dan loss 20%, tinggal Rp 8 juta. Untuk balik ke Rp 10 juta, kamu butuh profit 25%—bukan 20%. Makin besar loss, makin susah recovery.
Prinsip emas: jangan pernah risiko lebih dari 1-2% modal per transaksi. Dengan begitu, meski kamu loss berturut-turut 10 kali, modal masih tersisa 80-90% untuk bangkit lagi.
2. Tentukan Persentase Risiko Per Transaksi
Langkah pertama dalam menghitung position sizing adalah menentukan berapa persen modal yang siap kamu relakan hilang dalam satu trading. Ini yang disebut risk per trade.
Kebanyakan trader profesional menggunakan angka 1-2% dari total modal. Misalnya, modal kamu Rp 20 juta. Dengan risk 2%, artinya kamu hanya boleh rugi maksimal Rp 400.000 per transaksi. Angka ini menjadi acuan utama dalam menghitung ukuran lot.
Kenapa tidak boleh lebih besar? Karena trading adalah permainan probabilitas. Bahkan strategi terbaik pun punya win rate maksimal 60-70%. Artinya, kamu pasti akan mengalami loss streak (kekalahan beruntun). Dengan risk kecil, kamu masih punya banyak kesempatan untuk balik modal.
3. Hitung Jarak Stop Loss dalam Pips/Poin
Setelah tahu berapa besar risiko yang bisa ditanggung, langkah berikutnya adalah mengukur jarak stop loss dari harga entry. Stop loss adalah level harga di mana kamu akan keluar otomatis jika market bergerak berlawanan.
Jarak stop loss harus berdasarkan analisis teknikal, bukan sekadar feeling. Misalnya, kamu trading EUR/USD di harga 1.1000 dan menempatkan stop loss di 1.0950. Jarak stop loss = 50 pips. Jarak inilah yang akan digunakan dalam rumus position sizing.
Di saham atau kripto, hitung dalam persentase atau poin. Contoh: beli saham di Rp 5.000, stop loss di Rp 4.800. Jarak risiko = Rp 200 per lembar. Semakin jauh stop loss, semakin kecil ukuran posisi yang bisa kamu ambil dengan risiko yang sama.
4. Gunakan Rumus Position Sizing Klasik
Rumus paling umum dan mudah dipahami untuk menghitung position sizing adalah:
Position Size = (Modal × Risk %) ÷ Jarak Stop Loss
Contoh kasus: Modal Rp 50 juta, risk 1% (Rp 500.000), jarak stop loss 100 pips. Asumsikan 1 pip = Rp 100.000 per lot standar.
- Risiko per pip = Rp 500.000 ÷ 100 pips = Rp 5.000/pip
- Position size = Rp 5.000 ÷ Rp 100.000 = 0.05 lot
Dengan lot 0.05, jika stop loss kena, kamu hanya rugi Rp 500.000 (1% dari modal). Rumus ini berlaku universal untuk forex, saham, komoditas, hingga kripto dengan penyesuaian satuan.
5. Sesuaikan dengan Leverage dan Margin
Di trading forex atau CFD, ada yang namanya leverage—daya ungkit yang memungkinkan kamu trading dengan modal lebih kecil. Tapi hati-hati, leverage adalah pedang bermata dua.
Leverage 1:100 artinya dengan modal Rp 1 juta, kamu bisa kontrol posisi senilai Rp 100 juta. Terdengar menggiurkan? Masalahnya, loss juga dikalikan 100. Kalau tidak pakai position sizing yang tepat, modal bisa ludes dalam sekejap.
Margin requirement adalah dana yang harus tersedia sebagai jaminan. Rumusnya: Margin = (Lot × Contract Size) ÷ Leverage. Pastikan setelah open posisi, free margin masih cukup besar (minimal 50% dari equity) untuk menahan fluktuasi harga. Jangan sampai terkena margin call hanya karena salah hitung ukuran lot.
6. Terapkan Metode Fixed Fractional
Metode Fixed Fractional adalah teknik di mana kamu selalu merisiko persentase tetap dari modal terkini (bukan modal awal). Jadi, ukuran posisi akan menyesuaikan secara otomatis dengan naik-turunnya modal.
Contoh: Modal awal Rp 10 juta, risk 2%. Posisi pertama risiko Rp 200.000. Setelah profit, modal jadi Rp 12 juta. Posisi kedua risiko 2% × Rp 12 juta = Rp 240.000. Begitu seterusnya, ukuran posisi mengikuti modal aktual.
Keuntungan metode ini: compounding effect. Saat profit, posisi membesar dan profit potensial juga meningkat. Saat loss, posisi mengecil otomatis, melindungi modal dari kerusakan lebih parah. Cocok untuk trader yang fokus pada pertumbuhan modal jangka panjang.
7. Pakai Metode Kelly Criterion (untuk yang Lebih Agresif)
Kelly Criterion adalah metode matematis yang menghitung ukuran posisi optimal berdasarkan win rate dan risk-reward ratio. Rumusnya:
f = (W × R – L) ÷ R
- f = fraksi modal yang dirisiko
- W = probabilitas menang
- L = probabilitas kalah (1 – W)
- R = risk-reward ratio (reward ÷ risk)
Contoh: Win rate 60%, risk-reward 1:2. f = (0.6 × 2 – 0.4) ÷ 2 = 0.4 atau 40% modal.
Tapi hati-hati! Kelly Criterion sangat agresif. Trader umumnya pakai Half Kelly atau Quarter Kelly (bagi hasilnya dengan 2 atau 4) agar lebih konservatif. Metode ini cocok untuk trader berpengalaman yang sudah punya track record win rate konsisten.
8. Hitung Position Sizing untuk Saham
Di pasar saham, position sizing sedikit berbeda karena tidak ada leverage dan satuan hitung pakai lot (100 lembar per lot di Indonesia). Rumusnya tetap sama, tapi disesuaikan dengan harga saham.
Contoh: Modal Rp 50 juta, risk 2% (Rp 1 juta). Beli saham BBCA di Rp 10.000, stop loss di Rp 9.500. Risiko per lembar = Rp 500.
- Jumlah lembar = Rp 1.000.000 ÷ Rp 500 = 2.000 lembar (20 lot)
- Modal terpakai = 2.000 × Rp 10.000 = Rp 20 juta
Pastikan modal terpakai tidak melebihi 40-50% dari total modal agar masih ada cash untuk diversifikasi atau menangkap peluang lain.
9. Sesuaikan dengan Volatilitas Pasar (ATR Method)
Average True Range (ATR) adalah indikator yang mengukur volatilitas harga. Metode ATR-based position sizing cocok untuk menyesuaikan ukuran lot dengan kondisi market.
Cara kerjanya: Semakin tinggi ATR (market volatil), semakin kecil ukuran posisi. Semakin rendah ATR (market tenang), ukuran posisi bisa lebih besar. Rumusnya:
Position Size = (Modal × Risk %) ÷ (ATR × Multiplier)
Multiplier biasanya 2-3, tergantung strategi. Contoh: Modal Rp 100 juta, risk 1%, ATR = 50 pips, multiplier 2.
- Risiko rupiah = Rp 1 juta
- Jarak stop (ATR × 2) = 100 pips
- Position size = Rp 1 juta ÷ (100 pips × Rp 100.000/pip) = 0.1 lot
Metode ini lebih adaptif dan cocok untuk trader swing atau position trading.
10. Gunakan Calculator Position Sizing Otomatis
Kalau kamu merasa ribet menghitung manual, gunakan saja position sizing calculator yang banyak tersedia gratis di internet. Tinggal input modal, risk persen, jarak stop loss, dan leverage—langsung keluar hasil ukuran lot yang tepat.
Beberapa platform trading seperti MetaTrader bahkan sudah menyediakan fitur built-in untuk hitung position size otomatis. Kamu tinggal drag-drop level entry dan stop loss di chart, calculator akan kasih rekomendasi lot.
Tapi ingat: calculator hanya tools. Kamu tetap harus paham logika di baliknya. Jangan sampai terlalu bergantung pada tools sampai lupa prinsip dasar manajemen risiko. Tools membantu efisiensi, tapi keputusan tetap di tanganmu.
Kesimpulan
Position sizing adalah fondasi dari money management yang sehat dalam trading. Tanpa position sizing yang tepat, strategi sebagus apa pun bisa hancur karena satu atau dua kali loss besar. Dari 10 cara di atas, kamu bisa pilih metode yang paling sesuai dengan gaya trading dan tingkat risiko yang nyaman buatmu.
Ingat: Trading bukan soal mencari profit sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat, tapi tentang bertahan hidup cukup lama sampai skill dan pengalamanmu matang. Position sizing yang disiplin adalah kunci untuk bisa tetap bermain di market dalam jangka panjang.
Sekarang giliran kamu! Sudah pernah coba metode position sizing yang mana? Atau punya pengalaman seru (atau menyakitkan) soal salah hitung lot? Share di kolom komentar, dan jangan lupa bagikan artikel ini ke teman-teman trader lainnya!